Ketika perkawinan harus dimulai
Kesunyian jadi punya warna sendiri
Bahkan warna bunga pun jadi asing”
Puisi “Ketika Perkawinan Harus Dimulai”
Oleh Oka Rusmini
Dari Patiwangi
KAPAN KAWIN????
Hi…this is a fabulous mei…Mei…Inget bulan mei saya jadi inget sebuah iklan rokok yang dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman…Tentang pertanyaan kapan kawin??? Dan jawabannya adalah Mei…tapi mei disini adalah Maybe yes, maybe no!!! Huahahaha…Saya puas sekali mendengar jawaban Ringgo, ini bisa jadi jawaban juga buat saya jika tawon2 berdengung (baca:keluarga) sudah menanyakan hal yang sama. Dengan satu kata MEI bisa mengandung banyak arti. Maybe yes, maybe no untuk merried dlm jangka waktu dekat ini. Maybe yes, maybe no untuk menikah. Juga mei untuk bulan mei tapi entah tahun kapan…
Married, marriagble, menikah, kawin atau apapun orang menyebutnya, merupakan hal yang masih jauh dari pikiran saya. Saya bukannya tidak ingin menikah tapi saya selalu berfikir menikah bukanlah satu2nya tujuan hidup perempuan. Banyak hal lain yang bisa menunjukkan eksistensi perempuan selain, menikah, hamil, melahirkan, mengurus anak dan ujung2nya turun ke dapur. Masih banyak lagi selain itu. Saya suka tersinggung jika orang mengatakan bahwa perempuan ujung2nya hanya ke dapur. Memang tidak ada yang salah dengan urusan dapur. Tapi kenapa dapur selalu di analogikan dengan perempuan? Bukankah sekarang banyak chef adalah laki2??
Saya juga sering tercengang dengan kata2 ibu dan kaka2 perempuan saya. Cepet kawin pin…Perempuan itu beda dengan laki2…Perempuan makin lama makin tua, laki2 makin lama makin mapan, makin gagah…Hummpph….Apa salahnya menjadi tua? Bukankah semakin perempuan bertambah umur malah semakin bertambah mandiri? Lalu ada tambahan dari ibu saya yang mengingatkan bahwa saya telah berumur 24 tahun…Sudah cukup umur…Ya..ya..sebagai perempuan berumur 24 tahun saya memang telah cukup umur untuk di buahi oleh seorang laki2 bahkan sejak saya berumur 13 tahun!!! Saya jadi sedih ko ibu dan kaka2 saya terkesan malah “merendahkan” kaum nya sendiri?? Padahal menurut saya intinya bukan lah cukup umur. Melainkan kedewasaan! Maturity…Inilah yang belum saya punyai. Saya memang telah berumur 24 tahun, telah berpacaran dengan seorang laki2 selama 3 tahun…Nah lamanya berpacaran ini juga yang menjadikan banyak orang bertanya kapan kawin, kan dah pacaran 3 tahun pin, pacar kamu dah kerja dan berpenghasilan lumayan, orang tua dah setuju, trus mau ngapain lagi, kan pacaran nya dah lama…Mau ngapain lagi??? Ya banyak lah yang mau dikerjain lagi selain kawin!!! Bungee jumping, paralayang, les merajut…..Theres so many many things!!!!
Kedewasaan. Kematangan hati dan isi kepala yang biasanya bertentangan itu yang belum saya punya. Saya masih seorang perempuan yang egois yang masih hanya memikirkan kesenangan untuk diri sendiri. Sementara you get married not to be happy but to make each other happy…(Roy I Smith).To make each other happy…Yeah…its still difficult for me…Untuk mengalahkan diri sendiri saja saya masih belum mampu apalagi untuk membuat orang lain bahagia dengan mengenyampingkan kebahagiaan saya sendiri. Selain itu saya berfikir apa sebenarnya tujuan dari perkawinan yang dilakukan oleh manusia…Apakah hanya untuk menghalalkan yang tadinya haram, membuat muhrim yang asalnya bukan muhrim, mempunyai keturunan agar penduduk dunia semakin padat, membuat keluarga sakinah? Dan keluarga yang seperti apa yang disebut keluarga sakinah itu? Apa saya sanggup mendidik anak saya menjadi orang yang berarti???? Apa saya mampu???? Apa saya bisa????. Saya merinding membayangkan ketidakmampuan saya. Ketidaksanggupan saya.
Berpacaran selama 3 tahun tidak membuat saya ingin cepat2 menikah. Justru malah semakin banyak hal yang membuat saya berfikir ulang untuk segera menikah. I will. Someday I’ll getting married. Tapi selama saya maupun pasangan saya, siapa pun nanti orangnya, belum memiliki tujuan, visi, misi, yang jelas tentang sebuah perkawinan. Selama saya dan dia masih belum bisa kompromi terhadap semua hal yang menjadi perbedaan antara laki2 dan perempuan. Selama dia masih punya anggapan bahwa laki2 berkuasa atas kehidupan perempuan. Selama saya dan dia belum bisa untuk ‘berbicara’ dan saling ‘mendengarkan’. Saya masih tetap berpikiran untuk tidak akan menikah.
Saya sama sekali tidak menjudge orang2 yang memutuskan untuk segera menikah kalau memang mereka telah siap…Saya malah mengacungkan jempol atas kesanggupan, kesiapan mereka. Mendoakan semoga mereka benar2 bisa mengilhami apa tujuan dari sebuah pernikahan itu.
Saya bukan mencari pasangan yang sempurna buat saya. Saya yakin kesempurnaan itu Cuma milik Yang Di Atas. Ya…seperti itulah…mungkin akan terlihat terlalu naïf buat sebagian orang. Tapi itulah pemikiran, pemahaman saya terhadap sebuah perkawinan. Bagaimana dengan kamu???? Semua orang punya pemikiran sendiri….kamu juga pasti punya….ayo ungkapkan…bebaskeun!!!.
Lord have mercy!!! Lord have mercy on me…..Whoever I am....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar